DAMPAK MENONTON FILM KARTUN TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK USIA DINI
DAMPAK MENONTON FILM KARTUN TERHADAP PERKEMBANGAN
PSIKOLOGIS ANAK USIA DINI
UNTUK MEMENUHI
TUGAS MATA KULIAH
Bahasa Indonesia
Keilmuan
yang dibina oleh
Bapak Dr. Roekhan
oleh :
Nurul Hidayah
120811421426

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS PENDIDIKAN PSIKOLOGI
PSIKOLOGI
Desember 2012
DAMPAK
MENONTON FILM KARTUN TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK USIA DINI
Oleh :
Nurul Hidayah
1.
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Televisi
menayangkan berbagai macam menu hiburan dan informasi yang menarik. Hampir seluruh stasiun televisi menayangkan
acara televisi untuk anak-anak. Acara televisi film kartun khususnya telah
mampu meraih perhatian anak-anak dan tanpa sadar membuang waktu mereka.
Menonton film kartun telah menjadi kebiasaan bahkan kebutuhan bagi sebagian
anak.
Fenomena
pengaruh program telivisi kartun semakin semarak tetapi jika anak-anak menonton
program televisi kartun yang tepat dan tidak berlebihan maka akan menimbulkan
pembelajaran yang positif. Pembelajaran
yang terkandung memang tersirat dan bermacam-macam.
Beragam
program televisi yang ditayangkan mampu menarik minat dan membuat ketagihan
para permirsanya. Tanpa memandang usia
baik dari orang tua, remaja maupun anak-anak.
Dengan aneka ragam program televisi mulai dari berita hiburan juga film
kartun. Film kartun yang menarik bagi
anak-anak ini disediakan dalam jumlah yang banyak yang mampu membuat anak-anak
dapat bertahan duduk lama di depan televisi.
Doraemon,
Dora The Explorer, Upin Ipin, si Unyil dan beberapa macam film kartun lainnya
merupakan contoh film kartun yang sering ditayangkan disiaran televisi
Indonesia. Dari film kartun tersebut
anak dapat menambah wawasan, nilai disiplin, bergotong royong juga saling
membantu layaknya seperti yang ditayangkan di film kartun.
Memang
tidak bisa dipungkiri beberapa film kartun juga membawa dampak negatif bagi
anak, namun jika film kartun yang dipilih dengan bijak dan ditonton berdasarkan
bimbingan orang tua, maka dampaknya akan positif bagi perkembangan psikis anak.
Perkembangan
psikologis pada anak meliputi perkembangan intelek, perkembangan emosi dan
perkembangan sosial. Perkembangan
intelek ditunjukkan dengan prilaku anak, yaitu tindakan menolak dan memilih
sesuatu. Tindakan itu berarti telah
mendapatkan proses mempertimbangkan sesuatu atau lebih dikenal dengan proses
analisis, evaluasi sampai kemampuan menarik kesimpulan dan keputusan. Perkembangan emosi juga ditunjukkan dengan
perubahan prilaku fisik anak. misalnya,
perasaan marah ditunjukkan dengan reaksi teriakan atau melempar barang
didekatnya. Adapun perkembangan sosial
ditunjukkan dengan ketertarikan anak dengan teman sebayanya yang sama jenis
kelaminnya, anak akan membentuk kelompok sebaya sebagai dunianya, memahami
dunianya, dan dunia pergaulan yang lebih luas.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan
masalah umum :
Bagaimana
dampak menonton film kartun terhadap perkembangan psikologis anak usia dini ?
Rumusan
masalah khusus :
1)
Bagaimana dampak
menonton film kartun terhadap perkembangan intelek anak ?
2)
Bagaimana dampak
menonton film kartun terhadap perkembangan emosi anak?
3)
Bagaimana dampak
menonton film kartun terhadap perkembangan sosial anak?
2.
Pembahasan
2.1
Dampak
Menonton Film Kartun Terhadap Perkembangan Intelek Anak
Intelek
atau daya pikir seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf
otaknya. Karena daya pikir menunjukkan
fungsi otak, kemampuan intelektual dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu
menunjukkan fungsinya secara baik (Enung, 2010:23)
Perkembangan
intelek ini ditunjukkan pada perilakunya, yaitu tindakan menolak dan memilih.
Anak akan mampu melakukan prediksi, perencanaan, dan berbagai kemampuan
analisis dan sintesis sesuai dengan pengalamannya. Perkembangan kemampuan berpikir semacam ini
dikenal dengan perkembangan kognitif. Film
kartun yang mengandung pembelajaran edukasi akan mendukung daya pikir anak
menjadi anak yang kreatif dan penuh imajinasi.
Menurut Piaget (Sarlito,1991:81) perkembangan kognitif sesorang mengikuti
tahapan berikut
a. Masa
sensori motorik (0,0-2,5 tahun)
Masa
awal perkembangan anak (bayi) yang dimulai dengan digunakannya sistem indera dan aktivitas
motorik untuk mengenal lingkungannya.
Pada masa ini anak menunjukkan rasa ingin tahu dan bereksperimen. Anak-anak mencoba berbagai aktivitas baru dan
menerapkan trial-and error untuk
memecahkan masalah. Anak juga mampu
menggunakan simbol seperti isyarat dan kata juga dapat berpura-pura. Film kartun dapat digunakan sebagai fasilitas
untuk memperkaya pengetahuan anak juga membantu memperkaya jumlah kosakata
seperti film kartun “Tarzan” yang dapat membantu mengenalkan anak tentang
sejumlah hewan yang hidup di hutan.
b. Masa
praoperasional (2,0-7,0 tahun)
Ciri
khas masa ini yaitu kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili suatu
konsep. Misalnya, seorang anak yang
menonton kartun Ipin dan Upin yang bermain petak umpet, ia akan meniru
memainkannya bersama teman-teman sebayanya.
c. Masa
konkret operasional (7,0-11,0 tahun)
Pada
tahap ini, anak sudah dapat melakukan berbagai tugas yang konkret. Dimulai dari
identifikasi (mengenali sesuatu), negasi (mengingkari sesuatu), dan reprokasi (mencari
hubungan timbal-balik antara beberapa hal)
Film
kartun dapat digunakan sebagai fasilitas untuk memperkenalkan anak sesuatu yang
baru. Misalnya di film Dora The Explorer
anak akan diminta untuk menyebutkan nama-nama benda, tempat, hewan dan sebagainya dalam bahasa asing. Pada kartun dora juga terdapat tokoh Swiper
yang nakal dan suka mencuri, jika muncul tokoh tersebut maka Dora akan mengajak
penontonnya berkata”Swiper jangan mencuri..Swiper jangan mencuri” sehingga anak
akan memahami kalau mencuri itu perbuatan yang tidak baik.
d. Masa
operasional (11,0-dewasa)
Pada
tahap ini anak hampir mencapai usia remaja, anak mampu memperkirakan hal-hal
yang mungkin terjadi dan dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan. Misalnya jika suka bolos sekolah niali
akademiknya akan menurun, jika nilai akademik menurun maka akibatnya bisa tidak
naik kelas.
Film kartun merangsang daya khayal anak menjadi
tinggi dan berkembang. Imajinasi yang
tinggi ini akan berpengaruh pula terhadap perkembangan otak anak-anak, dengan
demikian akan menjadi semacam lingkaran mata rantai yang member efek
(pengaruh), baik yang sifatnya positif maupun negatif bila siaran tersebut
dapat memberi pelajaran dan pendidikan bagi anak-anak usia dini.
Merancang siaran yang baik untuk
anak-anak menjadi penting untuk ditelaah, terutama bimbingan dari orang tua
untuk senantiasa menjaga dan mengawasi siaran yang cocok untuk dilihat bagi
anak-anak.
Film kartun yang mengandung pembelajaran
edukasi akan mendukung daya pikir anak menjadi anak yang kreatif dan penuh
imajinasi.
2.2
Dampak
Menonton Film Kartun Terhadap Perkembangan Emosi Anak
Emosi
atau perasaan merupakan salah satu potensi kejiwaan yang khas dimiliki
manusia hal itu dikarenakahanya manusia
yang memiliki perasaan, sedangkan hewan tidak memiliki perasaan. Manusia memiliki keinginan untuk dipenuhi
kebutuhannya. Saat kebutuhan itu
terpenuhi, maka dia akan merasa senang dan puas, sedangkan jika kebutuhan
tersebut tidak terpenuhi maka dia akan merasa kecewa. Senang, puas, dan kecewa merupakan bagian
dari emosi.
Emosi
ini merupakan perasaan yang disertai oleh perubahan atau perilaku fisik. Misalnya, perasaan marah ditunjukkan oleh
teriakan dengan suara keras. Orang yang
gembira akan melonjak-lonjak sambil tertawa lebar, tersenyum bahagia dan
sebagainya.
Film
kartun petualangan edukatif seperti Dora The Explorer dapat berpengaruh positif
pada kecerdasan emosional anak jika ditonton dengan intensitas cukup dan tidak
terlalu sering. Terjadi pembelajaran
secara tidak langsung maupun langsung dari film kartun yang ditonton anak. Film kartun ini mencerminkan emosi anak dalam
mengekspresikan berbagai macam hal seperti rasa senang yang ditunjukkan Dora
dengan selalu tersenyum dan ceria, Boots
yang sedih jika sepatunya hilang dan banyak lagi hal lainnya di kartun ini yang
menampilkan berbagai macam emosi yang dapat dipelajari anak.
Film
kartun “Dora The Explorer” yang merupakan serial animasi yang dibuat oleh Chris
Gifford, Valerie Walsh, Eric Weiner dan berada di dalam rumah produksi Nickelodeon khusus didesain untuk anak-anak. Dora tokoh utama serial ini adalah seorang
gadis kecil yang baik hati dan suka menjelajah.
Ditemani Boots, seekor monyet yang mejadi temannya, mereka menjelajah
untuk membantu seorang teman atau mencari sesuatu yang dibutuhkan. Dalam penjelajahannya, Dora banyak mengajak
penonton untuk turut membantunya, seperti mengajak anak-anak yang menjadi
penontonnya untuk menjawab pertanyaan Dora, membantu menghitung, memilih jalan
atau benda yang dibutuhkan dari banyaknya pilihan.
Pembelajaran
yang terkandung dalam kartun Dora beraneka ragam, mulai dari belajar bahasa
Inggris, bagaimana cara bersikap terhadap sesama makhluk hidup, membantu teman
yang kesulitan, mengajarkan anak agar tetap tenang dan berani dalm setiap
situasi, belajar untuk mengambil keputusan, belajar mengenal macam-macam
perasaan, belajar untuk mengingat kembali hal yang berkesan. Dari kartun Dora maka anak-anak akan belajar
untuk mengelola emosi dengan baik dalam menyelesaikan masalah dan lambat laun
akan membentuk suatu kecerdasan emosi yang lebih profesional.
Film
kartun yang edukatif dapat berpengaruh positif pada kecerdasan emosional anak
jika ditonton dengan intensitas cukup dan tidak terlalu sering. Terjadi pembelajaran secara tidak langsung
maupun langsung dari film kartun yang ditonton anak.
2.3 Dampak Menonton
Film Kartun Terhadap Perkembangan Sosial Anak
Dalam
proses pertumbuhan dan perkembangannya, setiap individu tidak dapat berdiri
sendiri, tetapi memerlukan bantuan orang lain.
Pada umumnya, setiap anak akan lebih tertarik kepada teman sebaya yang
sama jenisnya. Anak-anak itu kemudian
akan membentuk kelompok sebaya sebagai dunianya, memahami dunianya, dan dunia
pergaulan yang lebih luas. Dalam
perkembangannya, ia mengetahui bahwa kehidupan itu tidak seorang diri, harus
saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi, dan sebagainya.
Film
kartun akan memperkaya wawasan anak dalam mengenali dunianya, film kartun Doraemon misalnya dengan berbagai
macam karakter tokoh yang terdapat didalamnya akan mampu membantu anak
mengenali sifat-sifat orang yang ada disekelilingnya dan cara bersosialisasi
dengan teman-temannya.
Film
kartun ini juga mengisahkan persahabatan erat para tokohnya. Tokoh Doraemon yang baik hati dan mudah
kasihan pada Nobita yang suka berkeluh kesah. Nobita yang ceroboh, pemalas dan memaksa Doraemon agar keinginannya
terpenuhi . Sizuka yang ramah tamah dan
pandai. Suneo yang kaya dan sombong.
Giant yang nakal dan selalu ingin menang sendiri. Kelima tokoh tersebut
saling bergaul dan berinteraksi.
Meskipun berbeda tetapi mereka dapat bergaul satu sama lainnya,
terkadang saling mengejek, menolong dan bertengkar. Pergaulan kelima tokoh utama ini
menggambarkan masyarakat anak-anak sehari-hari, cara para tokoh bersosialisasi
dengan karakter yang berbeda. Pada film ini anak juga dapat membedakan tokoh
yang berprilaku baik dan buruk serta menilai persahabatan para tokohnya.
Film
kartun akan memperkaya wawasan anak dalam mengenali dunianya, anak akan mampu membantu anak mengenali
sifat-sifat orang yang ada disekelilingnya dan cara bersosialisasi dengan
teman-temannya.
3.
Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah
dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa film kartun yang dipilih dan
ditonton dengan bijak dapat dijadikan fasilitas yang tepat bagi para pendidik
dalam pengajaran dan pendidikan anak usia dini.
Perkembangan anak dari segi intelektualitas, emosi dan sosial
membutuhkan perhatian yang cukup besar untuk membuat anak mampu tumbuh dengan
baik.
Beragam film kartun yang ditayangkan
ditelevisi cukup menarik minat anak untuk terus menontonnya. Dora The Explorer, Upin Ipin, si Unyil,
Doraemon dan berbagai judul film kartun lainnya merupakan serangkaian film
kartun yang ditayangkan di televisi Indonesia.
Nilai-nilai persahabatan, karakteristik dan sifat-sifat dalam film
kartun, kosakata baru bisa didapatkan anak dalam menonton film kartun yang
berdedukatif sehingga film kartun tidak hanya menjadi hiburan yang tidak
bermakna bagi anak melainkan media pembelajaran yang bernilai positif.
Perhatian
dan dukungan dari orang-orang sekitar baik dari lingkungan keluarga sekolah dan
masyarakat juga dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi anak
sehingga dapat menjadikan generasi penerus bangsa ini sebagai generasi yang cerdas beradab dan
memiliki semangat daya juang yang tinggi demi agama bangsa dan negara.
DAFTAR
RUJUKAN
Papalia, D. & Olds, S. & Feldmen, R.
2009. Human Development.
Jakarta:Salemba Humanika
Fatimah, E. 2010. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung:Cv
Pustaka Setia
Komentar
Posting Komentar