KETERLAMBATAN BERJALAN PADA ANAK DITINJAU DARI PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS SELAMA TIGA TAHUN PERTAMA


KETERLAMBATAN BERJALAN PADA ANAK DITINJAU DARI PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS SELAMA TIGA TAHUN PERTAMA

MAKALAH
Psikologi Perkembangan


oleh :
Nurul Hidayah
120811421426






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS PENDIDIKAN PSIKOLOGI
PSIKOLOGI
Desember 2012




Kok, Si Kecil Belum Mulai Jalan?
Selasa, 22 Februari 2011 19:56
Setiap orangtua pasti menantikan momen anaknya belajar berjalan. Seakan pada momen tersebut si bayi sedang bersiap menuju level perkembangan yang lebih tinggi. Anak mulai belajar berjalan di sekitar usia 12 bulan. Namun, ketika di usia tersebut si anak belum juga mencoba belajar berjalan, banyak orangtua mulai khawatir dan bertanya apakah perkembangan si anak terlambat.

Pengarang buku The Birth to Five Book, Brenda Nixon berkata, "Kebanyakan orangtua merasa belajar berjalan adalah hal yang penting karena ada anggapan, hal itu terkait dengan kecerdasan anak. Tak sedikit orangtua yang membanggakan anaknya dengan kalimat, 'Pintar, deh anakku, umur 10 bulan sudah bisa jalan'. Hal-hal seperti ini yang membuat orangtua merasa anaknya yang belum mulai jalan di usia kebanyakan anak mulai jalan berpikir perkembangan anaknya tertunda. Padahal, berjalan berhubungan dengan temperamen dan kesempatan anak, bukan kecerdasan."

Terlambat?
Kebanyakan orangtua menantikan anak sudah belajar atau setidaknya mencoba berjalan ketika ia mencapai usia 12 bulan atau di usia ulangtahun pertamanya. Standarnya, anak-anak belajar berjalan antara usia 9-18 bulan. Jika si anak baru belajar berjalan di usia mendekati 18 bulan, kemungkinan terbesar karena ia tidak mendapatkan kesempatan, genetis, atau karena temperamennya.

Nixon menceritakan, seperti dikutip dari Babyzone, banyak orangtua yang memiliki bayi berusia 13 bulan menanyakan mengapa anaknya belum juga mulai belajar berjalan, pertanyaan yang ia tanyakan kembali kepada para orangtua itu adalah, "Apakah Anda memberinya cukup kesempatan? Saya menyarankan agar orangtua menggenggam tangan si anak dan biarkan si anak mulai menjejakkan kakinya dan belajar melangkah sendiri." Nixon menyarankan orangtua menggenggam kedua tangan si anak keliling rumah, menuju mobil, atau membiarkannya berpegangan pada kereta barang Anda di supermarket (tentunya dijaga jangan sampai ia terjepit atau tertimpa barang) sambil ia berusaha mengatur langkahnya. Latihan-latihan seperti inilah yang dibutuhkan oleh anak balita.

Ada pula anak yang memilih mengambil waktunya sebelum mulai belajar berjalan. Sebagian anak yang baru mau berjalan kalau ada yang memegangkan bisa saja dalam sekali waktu tiba-tiba berdiri dan tidak terjatuh, bahkan seakan ia sudah biasa berjalan sendiri.

Yang perlu dikhawatirkan?

Sementara kebanyakan anak yang hanya lambat belajar berjalan adalah anak-anak yang sehat, ada pula beberapa anak yang karena permasalahan perkembangan melewati masa ini. "Beberapa anak yang memiliki masalah neuromuscular, genetik, atau metabolis bisa jadi belajar berjalan di usia yang melewati usia umum anak belajar berjalan akibat kondisi kesehatan mereka," ujar dr Daniel Brennan, dokter anak di Sansum Clinic and Cottage Children's Hospital, California, AS. Menurut Brennan, sebagian anak mengalami masalah dalam berjalan akibat masalah ortopedi, seperti dysplasia pada pinggul. Anak-anak ini sebaiknya diperiksakan kondisinya kepada dokter spesialis yang ahli menangani hal tersebut.

Yang penting untuk diperhatikan adalah perkembangan motorik anak, anak yang mengalami masalah pada motorik kasar akan mulai menunjukkan keterlambatan segera. Umumnya, jika anak terlambat berjalan, biasanya ia terlihat juga terlambat belajar untuk duduk. Perkembangan penting motorik kasar termasuk pula saat ia belajar mengkontrol kepalanya di usia 4 bulan dan belajar duduk di usia 6-8 bulan. Anak yang baru belajar duduk di usia 10-11 bulan bisa jadi akan terlambat belajar berjalan.

Saat anak sedikit terlambat berkembang dibandingkan anak seusianya, orangtua secara alamiah akan mulai khawatir. Namun, di kebanyakan kasus terlambat berjalan bukan alasan untuk panik. Beberapa anak memfokuskan diri pada kemampuan berbeda di waktu yang berbeda, karena itulah rentang kewajaran anak untuk belajar pondasi-pondasi perkembangannya cukup luas. Kadang, akan lebih baik untuk menunggu dulu hingga si anak mencoba sambil membantunya. Tetapi, tidak ada salahnya untuk selalu mengecek perkembangan anak kepada ahlinya.
Sumber: Kompas

1.        Pembahasan

1.1  Perkembangan Fisik Anak
            Antara usia 6 sampai 10 bulan, kebanyakan bayi mulai bergerak dengan kekuatan mereka sendiri, dengan cara merayap atau merangkak.  Dengan berpegangan tangan kepada yang membantunya rata-rata bayi dapat berdiri diusia 7 bulan lebih sedikit dan dapat berdiri dengan baik sekitar du minggu sebelum ulang tahun pertama.  Semua perkembangan motorik ini menuju ke pencapaian motorik utama dimasa bayi yaitu berjalan.  Manusia mulai berjalan lebih lama dibandingkan dengan spesies yang lain kemungkinan karena bayi memiliki kepala lebih besar dan kaki pendek sehingga menjaga keseimbangan menjadi sulit.
Pada dasarnya, terlambat berjalan tergantung faktor kematangan fisik dan psikologis anak. Faktor fisik, misal, apakah otot kakinya sudah matang atau belum. Bila sudah matang, dengan sendirinya ia dapat berjalan. Tapi bila ada kelainan fisik misal ototnya lemah atau cacat, maka hal ini dapat diketahui langsung secara otomatis anak akan lambat berjalan.
             Ada tidak kelainan fisik diketahui dari pemeriksaan dokter. Bila tidak ada dan sudah matang, harus dilihat pula kematangan mentalnya, apakah ada kesiapan diri. Misal, tampak keinginannya untuk berjalan dituntun. Sebab, meski kakinya sudah kuat tapi bila ia belum mau berjalan, takkan terdorong untuk berjalan.

1.2  Perkembangan Kognitif Anak
            Bagi anak yang berusia 0-2 tahun, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll.
            Untuk menumbuhkan perkembangan kognitif sebuah temuan Harvard Preschool Project melakukan penelitian menggunakan skala HOME diantaranya yaitu memberi bayi kekuatan untuk menyebabkan perubahan, melalui mainan-mainan yang dapat digoyangkan,dibentuk dan digerakkan juga seperti mengajarkan anak memutar keran sehingga air dapt mengalir.  Bertepuk tangan dan memuji keterampilan baru dan membantu anak melatih dan memperluasnya.  Pengasuh atau orangtua berada didekat anak tapi jangan terlalu dekat.  Dalam hal ini kemampuan berjalan anak dapat dilatih dengan cara ini, yaitu  selalu mendukung anak dan memberkan pujian atas tiap langkah kaki yang mereka coba.

1.3  Perkembangan Sosial Emosional Anak
            Interaksi yang mempengaruhi rasa aman dari kelekatan bergantung pada kemampuan baik anak dan pengasuh untuk merespon selekasnya dan secara sensitif terhadap keadaan mental dan emosional satu sama lain atau regulasi timbal balik.  Orang tua dapat memberi kontribusi terhadap timbal balik dengan memberikan komentar yang menunjukkan bahwa mereka mengerti apa yang ada dalam benak anak.  Anak berperan aktif dalam proses ini dengan cara mengirim sinyal perilaku yang mempengaruhi cara pengasuh beringkah laku kepada anak.
            Perkembangan emosional merupakan proses yang terjadi secara bertahap, emosi yang rumit merupakan hasil dari yang sederhana.  Karakteristik pola reaksi emosional seseorang mulai berkembang pada masa bayi dan merupakan elemen dasar kepribadian.  Namun demikian, seiring tumbuhnya anak, beberapa respon emosional mungkin berubah.
            Emosi berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan.  Sebagai contoh, bayi yang baru lahir yang terlalaikan secara emosional-tidak dipeluk,diajak bicara-mungkin menunjukan kegagalan organik untuk berkembang, yaitu kegagalan untuk tumbuh dan bertambah berat badan walaupun mendapat gizi yang cukup.  Emosi seperti rasa marah dan takut, terutama rasa malu, bersalah, dan empati dapat memotivasi tingkah laku moral.


2.    Teori Perkembangan
Pakar Psikologi Perkembangan Erikson memfokuskan pada perkembangan psikososial sejak kecil hingga dewasa dalam delapan tahap. Setiap orang akan melewati tahapan dan setiap tahapan akan mendapatkan pengalaman positif dan negatif. Kepribadian yang sehat akan diperoleh apabila seseorang dapat melewati krisis dalam tugas perkembangan dengan baik. Bagi anak usia dini, autonomy v.s. doubt (1-3 tahun).Bayi memerlukan pengasuhan yang penuh cinta kasih sehingga ia merasa yang aman baginya. Ketidak konsistenan dan penolakan pada masa bayi akan menimbulkan ketidak percayaan pada pengasuhnya berlanjut pada orang lain dan lingkungan yang lebih luas.Pada masa usia dini banyak hal yang menarik dia sehingga akan menjadikan dia ingin selalu mencoba terkadang berbahaya. Pada tahap ini orang dewasa harus memberikan dukungannya dan Erikson mengingatkan pembatasan dan kritik yang berlebihan akan menyebabkan tumbuh rasa ragu terhadap kemampuan dirinya.
Pada saat anak telah mencapai usia yang cukup untuk berjalan dan memiliki kondisi fisik dan mental yang mumpuni dalam hal tersebut maka orang tua dan pengasuh harus mampu meyakinkan anak dan memberikan dorongan kepada anak bahwa anak mampu melakukan hal tersebut.  Memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya anak untuk berlatih berjalan  membuat anak merasa dipercaya untuk terus mencoba, sehingga anak tak perlu lagi ragu untuk mencoba langkah kaki mereka untuk berjalan.

3.    Usulan Solusi

Ø  Jika terjadi keterlambatan si kecil dalam berjalan, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan adanya gangguan persarafan dengan melakukan pemeriksaan neurologis, penilaian terhadap fleksibilitas sendi, kekuatan otot dan berbagai gerakan.
Ø  Bila penyebabnya disebabkan karena adanya keterlambatan motorik dan gangguan keseimbangan maka sebaiknya dilakukan beberapa stimulasi intervensi latihan untuk memperbaikinya. Stimulasi dan intervensi bila dilakukan pada keterlambatan berjalan yang ringan karena akan berdampak dengan kemampuan motorik lainnya dimasa depan.
Ø  Terapi fisik dilakukan tenaga terlatih khususnya Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi untuk kasus dengan gangguan keterlambatan berjalan ringan hingga berat.

Metode belajar sambil bermain untuk merangsang kemampuan anak berjalan

            Perlihatkan mainan menarik waktu ia berdiri agar mau melangkah ke arah mainan itu. Bantu ia berjalan dengan berpegangan pada kursi-meja yang kokoh. Mula-mula sambil dipegangi dengan dua tangan kita, lalu dengan satu tangan saja. Lepaskan pegangan kita bila ia kelihatan sudah mulai terampil, hingga ia pun punya kesempatan untuk belajar melangkah sendiri tanpa bantuan. Tentu harus dengan pengawasan kita. Mulanya mungkin ia hanya bisa berjalan 1 – 2 langkah saja. Selanjutnya ia akan mampu melangkah sendiri tanpa bantuan.

            Sebagian besar bayi belum mulai berjalan di ulang tahun pertamanya. Merujuk data penelitian, usia rata-rata mulai berjalan seorang anak ialah 13 – 15 bulan. Hanya 25 – 30 % yang mampu berjalan sebelum usia 12 bulan.




DAFTAR RUJUKAN
Papalia, D. & Olds, S. & Feldmen, R. 2009. Human Development. Jakarta:Salemba Humanika




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tsl

Skai aqidah

TSL- Halaqah 4 Tsalatsatul utsul Makna Hanifiyyah